Kamis, 28 Juni 2012

Porposal Skripsi



PROPOSAL SKRIPSI

 A. JUDUL PENELITIAN
LDR menggunakan IC L298

B. PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Kemajuan di bidang ilmu tekhnologi pada dewasa ini sangat pesat meliputi berbagi aspek kehidupan, dan salah satunya adalah perkembangan di dunia elektronika yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari. Terbukti kita tidak bisa lepas dari barang – barang elektronika tersebut karena sudah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan pada zaman modern ini.
Seperti kita ketahui, perkembangan dunia elektronika tidak terlepas dari setiap perkembangan teknologi, yang memungkinkan seseorang dapat membangun dan menciptakan suatu peralatan elektronik baru yang lebih berkualitas dan canggih. Dalam hal ini para pencinta teknologi, khususnya elektronika dibutuhkan kreatifitasnya untuk membuat suatu rancangan elektronika sederhana yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu penulis sebagai mahasiswa jurusan sistem komputer universitas gunadarma berusaha memahaminya dengan membuat salah satu alat, baik itu secara teknis dalam arti merancang alat itu sendiri maupun secara teori dalam bentuk penyusunan makalah alat tersebut.
Manusia dengan seribu kesibukan aktifitasnya, kadang lupa akan waktu. Salah satu manfaat dari perkembangan teknologi di bidang elektronika ini yang banyak kita jumpai dan mempunyai peranan penting yang berhubungan dengan Robot yaitu Line Tracking Robot dengan LM298 berbasis ATmega8535. Rangkaian robot ini sangat sederhana tapi cukup membantu sebagai pendeteksi jalur atau line.
Namun rangkaian Line Tracking Robot yang penulis buat masih memiliki kelemahan, yaitu terbatasnya pemilihan jalur arah dan fitur timer. Meskipun demikian alat ini masih memberikan manfaat.
Masalah dan Pembatas Masalah
a.         Menggunakan Sirkuit Mikrocontroller ATmega8535.
b.         Menggunakan Proximity Sensor dengan Photodioda.
c.         Menggunakan Sirkuit Motor Driver dengan Sensor IC LM298.
d.         Mengcompile kode program dan memprogramnya ke dalam Mikrocontroller menggunakan software CodeWizardAVR V2.04.4a.
e.         Mendeteksi Jalur Hitam atau Putih sebagai tracking utama.
f.           Mampu bergerak ke kiri, kanan, maju, dan stop.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memahami konsep dasar dan prinsip kerja Line Tracking Robot yang disusun dari komponen-komponen sederhana, sehingga menghasilkan pergerakan robot dengan cara mendeteksi garis jalur yang dilalui dan juga untuk memahami lebih jauh fungsi penerapan komponen-komponen elektronik terutama motor driver dan sensor yang terkait pada rangkaian Line Tracking Robot

Metode Penelitian
Metode penelitian yang penulis gunakan dalam makalah ini adalah :
a.         Hardware : yaitu mendesain beberapa komponen seperti Mikrokontroller ATmega8535motor driver IC LM298proximity sensor dengan fungsi photodiode, roda robot, dan lainya menjadi rangkaian sederhana untuk mendsain Robot yang bergerak mengikuti jalur yang ditentukan.
b.         Software yaitu mengkonfigurasi dan memprogram chip pada rangkaian mikrokontroller yang di inginkan menggunakan software CodeWizardAVR V2.04.4a dengan sistem operasi Windows.
c.         Perancangan Alat : yaitu merangkai komponen elektronika menjadi Rangkaian Robot Mini dengan menggunakan 3 macam rangkaian yang terdiri dari design Rangkaian Mikrokontroller ATmega8535, Rangkaian Motor Driver dengan menggunakan IC LM298, dan Rangkaian Proximity Sensor menggunakan LED dengan fungsi Photodioda.
d.         Penulisan Makalah : yaitu menganalisis jalannya seluruh rangkaian hardware dan software CodeWizardAVR V2.04.4a secara sistematis sehingga dihasilkan alat Line Tracking Robot yang sederhana dan kompatibel dengan program yang digunakan.

Sistematika Penulisan
Secara garis besarnya sistematika penulisan makalah ini di bagi menjadi 4 BAB sesuai dengan ruang lingkup pembahasan masalahnya, yang masing-masing di rincikan ke dalam sub-sub bab. Untuk lebih jelasnya sistematika penulisannya adalah sebagai berikut :
        BAB I  : PENDAHULUAN
Bab ini berisikan tentang latar belakang masalah, masalah dan pembatasan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian dan sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini.
        BAB II  : LANDASAN TEORI
Bab ini berisikan tentang teori–teori yang menunjang penulisan seperti pengertian alat, komponen pendukung yang aktif pada rangkaian, cara penghitungan nilai dari komponen –  komponen  dan fungsinya pada rangkaian “Line Tracking Robot” ini.

        BAB III  : PERANCANGAN SISTEM
Bab ini menjelaskan tentang analisa dari rangkaian baik secara per blok diagram maupun secara detail, flowchart dan analisa program beserta  konfigurasinya.
        BAB IV  : UJI COBA ALAT 
Bab ini menjelaskan tentang pengujian alat dengan menggunakan beberapa metode jalur, pengoperasian alat, dan kemampuan alat lainnya yang didukung oleh software.
         BAB V  : PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh selama pembuatan alat tersebut dibuat dan berisi pula saran dari penulis agar memudahkan bagi yang membuat alat tersebut.


C ALAT DAN BAHAN
Alat dan Bahan
-IC Atmega 8535
-IC L 298
-IC LM 334
-Resistor
-Kapasitor
-Dioda
-Xtal
-Potodioda
-Inframerah
-PCB
-Kabel pelangi

C. PERANCANGAN SISTEM
Analisa Secara Blok Diagram
Secara umum rangkaian Line Tracking Robot dengan LM298 memiliki blok diagram sebagai berikut:


Terlihat pada blok diagram di atas, sistem diawali dengan pemberian aktivator (tegangan DC) ke alat, kemudian terjadi proses pada Sensor (Inframerah dan Photodioda) sebagai input yang nantinya diproses pada IC LM339 (penguat), IC LM298 (penguat), dan program pada Mikrokontroler ATmega8535 (berisi program yang mengendalikan hasil output) yang selanjutnya output dari proses di atas akan dijalankan pada 2 buah kendali Motor DC.

Berikut ini tabel kebenaran input dan output yang menggunakan 4 mode pilihan output yaitu Maju, Kiri, Kanan dan Stop :

Bergerak Maju
Input
Berlogika
Output 1
Output 2
Input
Berlogika
Output 3
Output 4
5
1
1
0
12
0
1
0
7
0
1
0
10
1
1
0
6
1
1
0
11
1
1
0
Bergerak Kiri
Input
Berlogika
Output 1
Output 2
Input
Berlogika
Output 1
Output 2
5
0
0
1
12
0
1
0
7
1
0
1
10
1
1
0
6
1
0
1
11
1
1
0
Bergerak Kanan
Input
Berlogika
Output 1
Output 2
Input
Berlogika
Output 1
Output 2
5
1
1
0
12
1
0
1
7
0
1
0
10
0
0
1
6
1
1
0
11
1
0
1
Bergerak berhenti
Input
Berlogika
Output 1
Output 2
Input
Berlogika
Output 1
Output 2
5
0
0
0
12
0
0
0
7
0
0
0
10
0
0
0
6
0
0
0
11
0
0
0

Tabel 
3.1 Tabel Kebenaran Input / Output





Flowchart
 Berikut ini adalah flowchart dari Line Tracking Robot :



D. RENCANA BIAYA PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian karya ilmiah untuk memenuhi salah satu
syarat guna memperoleh gelar sarjana pada universitas gunadarma, maka semua biaya
penelitian ditanggung oleh penulis.

E. JADWAL WAKTU PENELITIAN
1. Minggu I: Persiapan.
2. Minggu II – IV: Pengumpulan data, pengolahan dan analisis data secara garis besar.
3.Minggu V – IX: Penyusunan laporan draf, mulai dari BAB I sampai dengan BAB V
4. Minggu X - XII: Laporan akhir

F. DAFTAR PUSTAKA
1. Deddy Susilo. 2010. “Mikrokontroler MCS51 & AVR. Pernerbit ANDI. Jakarta.

Kamis, 03 Mei 2012

Data


TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data bisa dibedakan dengan beberapa hal, seperti:

  1. Berdasarkan Setting (Setting Alamiah, Labortorium dengan melalui eksperimen, di rumah dengan mewawancarai responden, seminar, dan lain-lain)
  2. Berdasarkan sumber data: (Sumber Primer : Sumber yang langsung memberikan data dan Sumber Sekunder : Sumber yang tidak langsung memberikan data).
  3. Berdasarkan Teknik Pengumpulan Data dibagi lagi menjadi: Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Triangulasi/Gabungan
Selain  di atas jug ada teknik pengumpulan data adalah:
  1. Angket (self-administerd questionnaire)
*    Teknik pengumpulan data dengan cara menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden.
*    Keuntungan:
  1. Angket dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar karena dapat dikirim melalui pos.
  2. Biaya yang diperlukan untuk membuat angket relatif murah.
  3. Angket tidak terlalu mengganggu responden karena pengisiannya ditentukan oleh responden sendiri sesuai dengan kesediaan waktunya.
*    Kerugian:
  1. Jika angket dikirim melalui pos, maka persentase dikembalikan relatif rendah.
  2. Angket tidak dapat digunakan untuk responden yang kurang bisa membaca dan menulis.
  3. Pertanyaan-pertanyaan diangket bisa ditafsirkan salah dan tidak ada kesempatan untuk mendapat penjelasan.
*    Pertanyaan yang digunakan dapat dibedakan menjadi dua:
1. Pertanyaan terbuka: pertanyaan yang jawabannya tidak disediakan sehingga responden bebas menuliskan jawabannya sendiri.
+ Memberikan kebebasan kepada responden untuk memberikan jawaban sesuai dengan pandangannya.
-Sulit mengolahnya karena harus membaca semua jawaban yang diberikan dan kemudian menggolong-golongkannya.
2. Pertanyaan tertutup: pertanyaan yang jawabannya sudah disediakan dengan memberikan tanda, misalnya melingkari huruf didepan jawaban yang dipilih.
+ Mudah mengolahnya
-Tidak memberikan kebebasan kepada responden untuk memberikan jawabannya.
*    Dalam membuat jawaban alternatif untuk pertanyaan tertutup atau dalam menggolongkan jawaban yang diberikan pertanyaan terbuka, perlu memperhatikan ketentuan-ketentuan berikut:
  1. Penggolongan hanya didasarkan atas satu prinsip atau satu dimensi.
  2. Golongan-golongan yang dibuat harus saling meniadakan (mutually exclusive)
  3. Golongan-golongan yang dibuat harus menyeluruh (exhaustive)
*    Pedoman-pedoman yang harus diperhatikan dalam membuat pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan untuk instrumen penelitian (Rubin & Babbie, 1989):
  1. Pertanyaan atau pernyataan yang dibuat harus jelas dan tidak meragukan.
  2. Hindari pertanyaan atau pernyataan ganda (duoble-barreled questions).
  3. Responden harus mampu menjawab.
  4. Pertanyaan atau pernyataan harus relevan.
  5. Pertanyaan atau pernyataan yang pendek adalah yang terbaik.
  6. Hindari pertanyaan, pernyataan, atau istilah yang bias, termasuk tidak menanyakan pertanyaan yang sugestif.
*    Urutan pertanyaan juga harus diperhatikan. Rubin & Babbie menyarankan agar dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang menarik dan tidak dengan pertanyaan-pertanyaan yang sensitif atau pribadi. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan untuk identitas, disarankan untuk ditanyakan dibagian akhir.
  1. Wawancara (interview)
*    Pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pengumpul data kepada reponden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkan dengan alat perekam (tape recorder).
*    Keuntungan:
  1. Wawancara dapat digunakan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis.
  2. Jika ada pertanyaan yang belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya.
  3. Dapat mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan pembanding atau dengan memperhatikan gerak-gerik responden.
*    Kerugian:
  1. Memrlukan biaya yang sangat besar untuk perjalanan dan uang harian pewawancara.
  2. Hanya dapat menjangkau daerah jumlah responden yang lebih kecil.
  3. Kehadiran pewawancara mungkin mengganggu responden.
*    Daftar pertanyaan untuk wawancara ini disebut interview schedule.Sedangkan catatan garis besar tentang pokok-pokok yang akan ditanyakan disebut pedoman wawancara (interviw guide).
*    Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mendapat kerja sama yang baik dari responden:
  1. Penampilan fisik, termasuk pakaian yang dapat memberi kesan apakah pewawancara dapat dipercaya atau mungkin mengancam keselamatan responden.
  2. Sikap dan tingkah laku pewawancara. Sikap dan tingkah laku yang sopan akan menyenangkan calon responden.
  3. Identitas, pewawancara harus memprkenalkan diri terlebih dahulu.
  4. Persiapan. Dalam arti pewawancara harus menguasai apa yang akan ditanyakan kepada responden.
  1. Observasi
*    Pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
*    Keuntungan:
  1. Data yang diperoleh adalah data yang segar dalam arti data dikumpulkan dari subjek pada saat terjadinya tingkah laku.
  2. Keabsahan alat ukur dapat diketahui secara langsung.
*    Kerugian:
  1. Pengamat harus menunggu dan mengamati sampai tingkah laku yang diharapkan terjadi.
  2. Beberapa tingakah laku, seperti tingakah lakua yang bersifat kriminal sulit untuk diamati bahkan bisa berbahaya. Untuk tingkah laku seperti ini masih mungkin diperoleh menggunakan wawancara (Atherton & Klemmack, 1982).
*    Berdasarkan keterlibatan pengamatan dalam kegiatan-kegiatan orang yang diamati, observasi dapat dibedakan menjadi:
1. Observasi partisipan (partisipant observation).
-     Pengamat ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang diteliti seolah merupakan bagian dari mereka.
2. Observasi takpartisipan (nonpartisipant observation).
-     Pengamat berada di luar subjek yang diamati dan tidak ikut dalam kegiatan yang mereka lakukan.
*    Berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan, observasi dapat dibedakan menjadi:
1. Observasi takberstruktur.
-     Pengamat tidak membawa catatan tentang tingkah laku apa saja yang secara khusus akan diamati. Ia akan mengamati arus peristiwa dan mencatatnya atau meringkasnya untuk kemudian dianalasis.
2. Observasi berstruktur.
-     Peneliti memusatkan perhatian pada tingkah laku tertentu sehingga dapat dibuat pedoman tentang tingkah laku apa saja yang harus diamati.
  1. Studi Dokumentasi
*    Teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumen yang diteliti dapat berupa berbagai macam, tidak hanya dokumen resmi.
*    Dokumen dapat dibedakan menjadi:
  1. Dokumen primer, jika dokumen ini ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa. Contoh: otobiografi.
  2. Dokumen sekunder, jika peristiwa dilaporkan kepada orang lain yang selanjutnya ditullis oleh orang lain itu. Contoh: biografi.
*    Keuntungan (Bailey, 1982):
  1. Untuk subjek penelitian yang sukar atau sulit dijangkau seperti para pejabat, teknik ini bisa memberikan jalan untuk melanjutkan penelitian.
  2. Takreatif.
  3. Analisis longitudinal.
  4. Besar sampel.
*    Kerugian (Bailey, 1982):
  1. Bias.
  2. Tersedia secara selektif.
  3. Tidak lengkap.
  4. Format yang tidak baku.
*    Sebagaiman metode historik, dalam studi dokumentasi perlu dilakukan kritik terhadap sumber data, baik kritik kritik internal maupun eksternal.


JENIS DATA PENELITIAN
Aktivitas penelitian tidak akan terlepas dari keberadaan data yang merupakan bahan baku informasi untuk memberikan gambaran spesifik mengenai obyek penelitian. Data adalah fakta empirik yang dikumpulkan oleh peneliti untuk kepentingan memecahkan masalah atau menjawab perta- nyaan penelitian. Data penelitian dapat berasal dari berbagai sumber yang   dikumpulkan dengan menggunakan berbagai teknik selama kegiatan penelitian berlangsung.
A.     Data Berdasarkan Sumbernya
Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu data primer dan data sekunder.
  1. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer antara lain observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus grup discussion – FGD) dan penyebaran kuesioner.
  2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain.
Pemahaman terhadap kedua jenis data di atas diperlukan sebagai landasan dalam menentukan teknik serta langkah-langkah pengumpulan data penelitian.
B. Data Berdasarkan Sifatnya
Berdasarkan bentuk dan sifatnya, data penelitian dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu data kualitatif (yang berbentuk kata-kata/kalimat) dan data kuantitatif (yang berbentuk angka). Data kuantitatif dapat dikelompokkan berdasarkan cara mendapatkannya yaitu data diskrit dan data kontinum. Berdasarkan sifatnya, data kuantitatif terdiri atas data nominal, data ordinal, data interval dan data rasio.
1.      Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.
2.       Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika. Berdasarkan proses atau cara untuk mendapatkannya, data kuantitatif dapat dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu sebagai berikut:
  1. Data diskrit adalah data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara membilang. Contoh data diskrit misalnya:
1)      Jumlah Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan XXX sebanyak 20.
2)      Jumlah siswa laki-laki di SD YYY sebanyak 67 orang.
3)      Jumlah penduduk di Kabupaten ZZZ sebanyak 246.867 orang.
Karena diperoleh dengan cara membilang, data diskrit akan berbentuk bilangan bulat (bukan bilangan pecahan).
  1. Data kontinum adalah data dalam bentuk angka/bilangan yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran. Data kontinum dapat berbentuk bilangan bulat atau pecahan tergantung jenis skala pengukuran yang digunakan. Contoh data kontinum misalnya:
1)      Tinggi badan Budi adalah 150,5 centimeter.
2)      IQ Budi adalah 120.
3)      Suhu udara di ruang kelas 24o Celcius.
Berdasarkan tipe skala pengukuran yang digunakan, data kuantitatif dapat dikelompokan dalam empat jenis (tingkatan) yang memiliki sifat berbeda yaitu:
  1. Data nominal atau sering disebut juga data kategori yaitu data yang diperoleh melalui pengelompokkan obyek berdasarkan kategori tertentu.  Perbedaan kategori obyek hanya menunjukan perbedaan kualitatif. Walaupun data nominal dapat dinyatakan dalam bentuk angka, namun angka tersebut tidak memiliki urutan atau makna matematis sehingga tidak dapat dibandingkan. Logika perbandingan “>” dan “<” tidak dapat digunakan untuk menganalisis data nominal. Operasi matematika seperti penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (x), atau pembagian (:) juga tidak dapat diterapkan dalam analisis data nominal. Contoh data nominal antara lain:
  • Jenis kelamin yang terdiri dari dua kategori yaitu:
(1)  Laki-laki
(2)  Perempuan
Angka (1) untuk laki-laki dan angka (2) untuk perempuan hanya merupakan simbol yang digunakan untuk membedakan dua kategori jenis kelamin. Angka-angka tersebut tidak memiliki makna kuantitatif, artinya angka (2) pada data di atas tidak berarti lebih besar dari angka (1), karena laki-laki tidak memiliki makna lebih besar dari perempuan. Terhadap kedua data (angka) tersebut tidak dapat dilakukan operasi matematika (+, -, x, : ). Misalnya (1) = laki-laki, (2) = perempuan, maka (1) + (2) ≠ (3), karena tidak ada kategori (3) yang merupakan hasil penjumlahan (1) dan (2).
  • Status pernikahan yang terdiri dari tiga kategori yaitu: (1) Belum menikah, (2) Menikah, (3) Janda/ Duda. Data tersebut memiliki sifat-sifat yang sama dengan data tentang jenis kelamin.
  1. Data ordinal adalah data yang berasal dari suatu objek atau kategori yang telah disusun secara berjenjang menurut besarnya. Setiap data ordinal memiliki tingkatan tertentu yang dapat diurutkan mulai dari yang terendah sampai tertinggi atau sebaliknya. Namun demikian, jarak atau rentang antar jenjang yang tidak harus sama. Dibandingkan dengan data nominal, data ordinal memiliki sifat berbeda dalam hal urutan. Terhadap data ordinal berlaku perbandingan dengan menggunakan fungsi pembeda yaitu  “>” dan “<”. Walaupun data ordinal dapat disusun dalam suatu urutan, namun belum dapat dilakukan operasi matematika ( +, – , x , : ). Contoh jenis data ordinal antara lain:
  • Tingkat pendidikan yang disusun dalam urutan sebagai berikut:
(1)  Taman Kanak-kanak (TK)
(2)  Sekolah Dasar (SD)
(3)  Sekolah Menengah Pertama (SMP)
(4)  Sekolah Menengah Atas (SMA)
(5)  Diploma
(6)  Sarjana
Analisis terhadap urutan data di atas menunjukkan bahwa SD memiliki tingkatan lebih tinggi dibandingkan dengan TK dan lebih rendah dibandingkan dengan SMP. Namun demikian, data tersebut tidak dapat dijumlahkan, misalnya SD (2) + SMP (3) ≠ (5) Diploma. Dalam hal ini, operasi  matematika ( + , – , x, : ) tidak berlaku untuk data ordinal.
  • Peringkat (ranking) siswa dalam satu kelas yang menunjukkan urutan prestasi belajar tertinggi sampai terendah. Siswa pada peringkat (1) memiliki prestasi belajar lebih tinggi dari pada siswa peringkat (2).
  1. Data Interval adalah data hasil pengukuran yang dapat diurutkan atas dasar kriteria tertentu serta menunjukan semua sifat yang dimiliki oleh data ordinal. Kelebihan sifat data interval dibandingkan dengan data ordinal adalah memiliki sifat kesamaan jarak (equality interval) atau memiliki rentang yang sama antara data yang telah diurutkan. Karena kesamaan jarak tersebut, terhadap data interval dapat dilakukan operasi matematika penjumlahan dan pengurangan ( +, – ). Namun demikian masih terdapat satu sifat yang belum dimiliki yaitu tidak adanya angka Nol mutlak pada data interval. Berikut dikemukakan tiga contoh data interval, antara lain:
1)  Hasil pengukuran suhu (temperatur) menggunakan termometer yang dinyatakan dalam ukuran derajat. Rentang temperatur antara 00 Celcius sampai  10 Celcius memiliki jarak yang sama dengan 10 Celcius sampai  20 Celcius. Oleh karena itu berlaku operasi matematik ( +, – ), misalnya 150 Celcius + 150 Celcius = 300 Celcius. Namun demikian tidak dapat dinyatakan bahwa benda yang bersuhu 150 Celcius memiliki ukuran panas separuhnya dari benda yang bersuhu 300 Celcius. Demikian juga, tidak dapat dikatakan bahwa benda dengan suhu 00 Celcius tidak memiliki suhu sama sekali. Angka 00 Celcius memiliki sifat relatif (tidak mutlak). Artinya, jika diukur dengan menggunakan Termometer Fahrenheit diperoleh 00 Celcius = 320 Fahrenheit.
2)  Kecerdasaran intelektual yang dinyatakan dalam IQ. Rentang IQ 100 sampai  110 memiliki jarak yang sama dengan 110 sampai  120. Namun demikian tidak dapat dinyatakan orang yang memiliki IQ 150 tingkat kecerdasannya 1,5 kali dari urang yang memiliki IQ 100.
3)  Didasari oleh asumsi yang kuat, skor tes prestasi belajar (misalnya IPK mahasiswa dan hasil ujian siswa) dapat dikatakan sebagai data interval.
4)  Dalam banyak kegiatan penelitian, data skor yang diperoleh melalui kuesioner (misalnya skala sikap atau intensitas perilaku) sering dinyatakan sebagai data interval setelah alternatif jawabannya diberi skor yang ekuivalen (setara) dengan skala interval, misalnya:
Skor (5) untuk jawaban “Sangat Setuju”
Skor (4) untuk jawaban “Setuju”
Skor (3) untuk jawaban “Tidak Punya Pendapat”
Skor (2) untuk jawaban “Tidak Setuju”
Skor (1) untuk jawaban “Sangat Tidak Setuju”
Dalam pengolahannya, skor jawaban kuesioner diasumsikan memiliki sifat-sifat yang sama dengan data interval.
  1. Data rasio adalah data yang menghimpun semua sifat yang dimiliki oleh data nominal, data ordinal, serta data interval. Data rasio adalah data yang berbentuk angka dalam arti yang sesungguhnya karena dilengkapi dengan titik Nol absolut (mutlak) sehingga dapat diterapkannya semua bentuk operasi matematik ( + , – , x, : ). Sifat-sifat yang membedakan antara data rasio dengan jenis data lainnya (nominal, ordinal, dan interval) dapat dilihat dengan memperhatikan contoh berikut:
1)      Panjang suatu benda yang dinyatakan dalam ukuran meter adalah data rasio. Benda yang panjangnya 1 meter berbeda secara nyata dengan benda yang panjangnya 2 meter sehingga dapat dibuat kategori benda yang berukuran 1 meter dan 2 meter (sifat data nominal). Ukuran panjang benda dapat diurutkan mulai dari yang terpanjang sampai yang terpendek (sifat data ordinal). Perbedaan antara benda yang panjangnya 1 meter dengan 2 meter memiliki jarak yang sama dengan perbedaan antara benda yang panjangnya 2 meter dengan 3 (sifat data interval). Kelebihan sifat yang dimiliki data rasio ditunjukkan oleh dua hal yaitu: (1) Angka 0 meter menunjukkan nilai mutlak yang artinya tidak ada benda yang diukur; serta (2) Benda yang panjangnya 2 meter, 2 kali lebih panjang dibandingkan dengan benda yang panjangnya 1 meter yang menunjukkan berlakunya semua operasi matematik. Kedua hal tersebut tidak berlaku untuk jenis data nominal, data ordinal, ataupun data interval.
2)      Data hasil pengukuran berat suatu benda yang dinyatakan dalam gram memiliki semua sifat-sifat sebagai data interval. Benda yang beratnya 1 kg. berbeda secara nyata dengan benda yang beratnya 2 kg. Ukuran berat benda dapat diurutkan mulai dari yang terberat sampai yang terringan. Perbedaan antara benda yang beratnya 1 kg. dengan 2 kg memiliki rentang berat yang sama dengan perbedaan antara benda yang beratnya 2 kg. dengan 3 kg. Angka 0 kg. menunjukkan tidak ada benda (berat) yang diukur. Benda yang beratnya 2 kg., 2 kali lebih berat dibandingkan dengan benda yang beratnya 1 kg..
Pemahaman peneliti terhadap jenis-jenis data penelitian tersebut di atas bermanfaat untuk menentukan teknik analisis data yang akan digunakan. Terdapat sejumlah teknik analisis data yang harus dipilih oleh peneliti berdasarkan jenis datanya. Teknik analisis data kualitatif akan berbeda dengan teknik analisis data kuantitatif. Karena memiliki sifat yang berbeda, maka teknik analisis data nominal akan berbeda dengan teknik analisis data ordinal, data interval, dan data rasio.

Variabel
Dengan adanya masalah itu, kemudian rumusan masalah dapat dikembangakan. Rumusan masalah pada umumnya berupa kalimat pertanyaan. Dari pertanyaan-pertanyan yang ada pada rumusan masalah tersebut nantinya akan menjawab variabel penelitian. Hal itu bisa terjadi setelah masalah sudah difahami dengan jelas dan sudah dikaji sacara teoritis, maka peneliti dapat menentukan variabel penelitiannya. Menurut Sugiono (2009) menyatakan bahwa “Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, yang kemudian ditarik kesimpulannya”. Suatu variabel mengandung variasi. Variasi dalam variabel tersebut diperoleh dari sekelompok sumber data atau obyek yang bervariasi. Variabel dapat dipelajari yang kemudian bisa ditarik kesimpulan. Hubungan antara variabel yang satu ke variabel yang lain perlu kita ketahui bagamana hubungannya. Oleh karena itu kita harus mengetahui terlebih dahulu macam dari variabel itu. Macam variabel tersebut adalah :
a. Variabel Independen (variabel bebas) / variabel eksogen : variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, predictor, antecedent. Dalam variabel ini merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat.
b. Variabel Dependen (variabel terikat) / variabel endogen / output : merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
c. Variabel Moderator : variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel bebasa dan variabel terikat.
d. Variabel intervening : variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak diantara variabel bebas dan variabel terikat, sehingga variabel bebas tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel terikat.
e. Variabel Kontrol : adalah variabel yang yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti. Variabel control digunakan oleh peneliti bila akan melakukan penelitian yang bersifat membandingkan.
Menurut Prihantoro (dalam http://www.verypdf.com/ to remove this watermark), variable penelitian dinbedakan menjadi :
a. Varibel laten adalah variabel yang tidak dapat diukur langsung, tetapi melalui suatu dimensi atau indikator dari masing-masing variabel.
b. Variabel manifest adalah variabel yang dapat diukur langsung.

Sumber:





Kamis, 26 April 2012

Metode Ilmiah


Definisi Metode Ilmiah
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

Karakteristik Metode Ilmiah
Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat. Proses pengukuran dapat dilakukan dalam suatu tempat yang terkontrol, seperti laboratorium, atau dilakukan terhadap objek yang tidak dapat diakses atau dimanipulasi seperti bintang atau populasi manusia. Proses pengukuran sering memerlukan peralatan ilmiah khusus seperti termometer, spektroskop, atau voltmeter, dan kemajuan suatu bidang ilmu biasanya berkaitan erat dengan penemuan peralatan semacam itu. Hasil pengukuran secara ilmiah biasanya ditabulasikan dalam tabel, digambarkan dalam bentuk grafik, atau dipetakan, dan diproses dengan perhitungan statistika seperti korelasi dan regresi.

Ada beberapa Karakteristik Metode Ilmiah:
-Bersifat kritis, analistis, artinya metode menunjukkan adanya proses yang tepat untuk mengidentifikasi masalah dan menentukan metode untuk pemecahan masalah.
-Bersifat logis, artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah. Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
-Bersifat obyektif, artinya dapat dicontoh oleh ilmuwan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama pula.
-Bersifat konseptual, artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.
-Bersifat empiris, artinya metode yang dipakai didasarkan pada fakta di lapangan.


Tahapan - Tahapan Metode Ilmiah :

1. Memilih dan mendefinisikan masalah
Langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan atau diangkat ke dalam sebuah penelitian. Untuk menghilangkan keragu-raguan, masalah tersebut didefinisikan secara jelas. Contoh Penelitian : "Bagaimana pengaruh mekanisasi terhadap pendapatan usaha tani di Aceh?" Berikan definisi tentang usaha tani, mekanisasi, pada musim apa, dan sebagainya.

2. Survei data yang tersedia
Mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. (Langkah pertama dan kedua dapat dikerjakan secara bersamaan).

3. Merumuskan hipotesis (bila penelitian bertujuan menguji hipotesis)
Hipotesa adalah kesimpulan sementara tentang hubungan antar variabel atau fenomena-fenomena dalam penelitian.

4. Menyusun kerangka analisa dan alat-alat dalam menguji hipotesis
Pengujian hipotesa menghendaki data yang dikumpulkan untuk keperluan penelitian.

5. Mengumpulkan data
Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesa, data terserbut perlu dikumpulkan.

6. Mengolah, menganalisa dan membuat interpretasi
Setelah data terkumpul, peneliti menyusun data untuk dianalisa. Penyusunan data dapat berbentuk tabel ataupun membuat coding untuk dianalisa dengan komputer. Setelah dianalisa, data perlu diberikan interpretasi terhadap data tersebut.

7. Generalisasi dan membuat kesimpulan
Kesimpulan dan generalisasi harus berkaitan dengan hipotesa. Apakah hipotesa benar untuk diterima ataukah ditolah. Apakah ada hubungan antar fenomena yang diperoleh atau tidak.

8. Membuat laporan penelitian
Langkah akhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat laporan ilmiah tentang hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut.

Sumber:

Rabu, 18 April 2012

Karya Ilmiah (2)

Ciri – ciri Karya Ilmiah


Dalam karya ilmiah ada 4 aspek yang menjadi karakteristik utamanya, yaitu :
a. struktur sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.

b. komponen dan substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.

c. , sikap penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.

d. penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.


Macam-macam karya ilmiah:

  • Karya ilmiah pendidikan:

1. Paper (Karya Tulis)

Paper atau lebih populer dengan sebutan karya tulis, adalah karya ilmiah berisi ringkasan atau resume dari suatu mata kuliah tertentu atau ringkasan dari suatu ceramah yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya.

2. Pra skripsi

Pra skripsi adalah karya tulis ilmiah pendidikan yang digunakan sebagai persyaratan mendapat gelar sarjana muda. Karya ilmiah ini disyaratkan bagi mahasiswa pada jenjang akademik atau setingkat diploma 3(D-3).

3. Skripsi

Skripsi adalah karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain. Pendapat yang diajukan harus didukung oleh data dan fakta-fakta empiris-objektif baik berdasarkan penelitian langsung (observasi lapangan) maupun penelitian tidak langsung (study kepustakaan).

4. Thesis

Thesis adalah suatu karya ilmiah yang sifatnya lebih mendalam dari pada skripsi, thesis merupakan syarat untuk mendapatkan gelar magister (S-2).

5. Disertasi

Disertasi adalah suatu karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta akurat dengan analisis terinci.

  • Karya ilmiah Penelitian :

1. Makalah Seminar (naskah seminar, naskah bersambung)

a. Naskah Seminar

Naskah Seminar adalah karya ilmiah yang berisi uraian dari topik yang membahas suatu permasalahan yang akan di sampaikan dalam forum seminar. Naskah ini bisa berdasarkan hasil penelitian pemikiran murni dari penulisan dalam membahas atau memecahkan permasalahan yang dijadikan topik atau dibicarakan dalam seminar.

b. Naskah Bersambung

Naskah Bersambung sebatas masih berdasarkan ciri-ciri karya ilmiah, bisa disebut karya tulis ilmiah. Bentuk tulisan bersambung ini juga mempunyai judul atau title dengan pokok bahasan (topik) yang sama, hanya penyajiannya saja yang dilakukan secara bersambung, atau bisa juga pada saat pengumpulan data penelitian dalam waktu yang berbeda.

2. Laporan hasil Penelitian

Laporan adalah bagian dari bentuk karya tulis ilmiah yang cara penulisannya dilakukan secara relatif singkat. Laporan ini bisa di kelompokkan sebagai karya tulis ilmiah karena berisikan hasil dari suatu kegiatan penelitian meskipun masih dalam tahap awal.

3. Jurnal Penelitian

Jurnal penelitian adalah buku yang terdiri karya ilmiah terdiri dari asal penilitian dan resensi buku. Penelitian jurnal ini harus teratur continue, dan mendapatkan nomor dari perpustakaan nasional berupa ISSN(international standard serial number).


Sikap Ilmiah:

1. Ingin tahu

Dengan selalu bertanya tentang berbagai hal.

2. Kritis

Direalisasikan dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya, baik dengan jalan bertanya kepada siapa saja yang diperkirakan mengetahui masalah maupun dengan membaca sebelum menentukan pendapat untuk ditulis.

3. Terbuka

Selalu mendengarkan keterangan dan argumentasi orang lain.

4. Objektif

menyatakan apa adanya tanpa perasaan pribadi.

5. Rela menghargai karya orang lain

Mengutip, menyatakan terima kasih dan menganggapnya sebagai karya orisinil milik pengarangnya.

6. Berani mempertahankan kebenaran

Membela fakta atas hasil penelitiannya.

7. Menjangkau ke depan

“Futuristik” berpandangan jauh, mampu membuat hipotesis dan membuktikannya, bahkan mampu menyusun teori baru.